Email : alfin@taharica.com
Telp / WA : 0812 1248 2471

Mengenal Sistem pengukuran dan inspeksi untuk plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapat dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka “malleable”, memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan variasi yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, “reliency” dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.

Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60 kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80 kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2 kg/orang/tahun.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri hilir plastik karena memiliki potensi pasar yang besar, baik di dalam maupun luar negeri.

“Potensi dari konsumsi produk plastik di Indonesia masih cukup besar. Apalagi konsumsi nasional per kapita per tahun baru 10 kilogram. Ini relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang mencapai 40 kilogram per kapita per tahun,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto pada pembukaan Pameran Plastik dan Karet di Jakarta, Rabu (10/10).

Dia lantas mencontohkan permintaan plastik kemasan. Selama ini, konsumsi produk kemasan dari plastik didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman hingga mencapai 60 persen. Di Indonesia, industri kemasan plastik tercatat sebanyak 892 unit. Produk kemasan plastik keras (rigid packaging), lunak (flexible packaging), serta produk thermoforming dan extrusion pasarnya tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

Saat ini kapasitas terpasang industri kemasan plastik mencapai 2,35 juta ton per tahun. Namun, utilisasinya sebesar 70 persen, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton, sedangkan penyerapan tenaga kerjanya sekitar 350.000 orang.

Meskipun struktur industri plastik nasional sudah cukup lengkap atau terintegrasi dari hulu ke hilir, namun masih terdapat sejumlah kendala dan hambatan, di antaranya impor bahan baku plastik, seperti polipropilena yang mencapai 484.000 ton dari total kebutuhan sebesar 976.000 ton per tahun.

Selain itu, industri plastik masih belum didukung industri hulu petrokimia yang memproduksi minyak mentah (naphta) dan kondensat. Industri hulu petrokimia di Indonesia banyak yang tidak memiliki kilang minyak (oil refinery) untuk menghasilkan bahan baku dasar plastik tersebut.

Keterbatasan kegiatan pemrosesan membuat industri hulu petrokimia masih mengimpor bahan baku naphta sebesar 1,6 juta ton dan kondensat sebesar 33 juta barel per tahun. Naphta dan kondensat merupakan bahan dasar untuk bahan baku industri plastik.

“Untuk mengurangi impor bahan baku, pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolah minyak mentah (oil refinery) yang terintegrasi dengan struktur industri dari hulu sampai hilir. Dalam hal ini, pemerintah siap memberikan inseritif, seperti penghapusan pajak (tax holiday), keringanan pajak (tax allowance), atau pembebasan bea masuk untuk barang modal. Selain itu, pemerintah juga akan mendorong pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan,” tutur Panggah.

Pengukuran profil ketebalan film yang ditiup (pengukuran non-kontak dan kontak 10μm hingga 500μm)

https://www.micro-epsilon.com/images/titles/measurement-systems-plastics/thickness-measurement-plastics.jpg

Sistem dari Keluarga seri BTS 8104 dirancang sebagai sistem pembalikan dan didasarkan pada teknologi kapasitif. Mereka langsung diterapkan segera di belakang sangkar kalibrasi pada gelembung dan karena itu menawarkan kontrol yang sangat cepat dan efisien. Kecepatan pembalikan adaptif memungkinkan penyesuaian pengukuran yang ideal untuk setiap langkah proses ekstrusi. Oleh karena itu, sistem ini menghadirkan dasar untuk produksi film yang sempurna terkait kualitas dan input bahan.

Keuntungan:

  1. 100% metode pengukuran kapasitif non-kontak dan kontak
  2. Lapisan berbeda untuk jenis film yang berbeda
  3. Kecepatan balik adaptif untuk memastikan kontrol cepat
  4. Tidak ada biaya akibat isotop atau sinar-X
  5. Lingkaran kontrol pendek dipastikan dengan pengukuran pada gelembung

Keluarga Seri BTS dirancang sebagai sistem pengukuran membalik dan melintasi yang dilengkapi dengan sensor kapasitif. Teknologi inovatif memungkinkan pengukuran presisi ekstrim untuk meningkatkan efisiensi produksi.

BTS 8104.NC

blasfolie_BTS8104NC_278x190px

Ketebalan versi non-kontakCONTROL BTS 8104.NC didasarkan pada kontrol posisi pneumatik yang dipatenkan. Versi ini bekerja dengan teknologi bantalan udara non-kontak yang memungkinkan kompensasi sempurna dari gerakan pada gelembung.

Fitur:

  1. 100% pengukuran non-kontak
  2. Resolusi <0,1 μm
  3. Tidak diperlukan kalibrasi selama pengukuran

BTS 8104.C

BTS 8104.C dirancang untuk membalikkan pengukuran setelah ekstrusi. Sensor kapasitif tersedia dengan pelapis berbeda.

blasfolie_BTS8104C_278x190px

Fitur:

  1. Resolusi <0,1 μm
  2. Tanpa bingkai terbalik, sensor dapat digunakan untuk pengukuran pada film datar
  3. Tidak diperlukan kalibrasi selama pengukuran

BTS 8100.C

BTS8100C_278x190px

BTS 8104.C dirancang untuk pengukuran pada film datar. Sensor kapasitif mudah untuk beradaptasi di jalur proses yang ada.

Fitur:

  1. Resolusi <0,1 μm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *